Kampus Unggul dan Berkemajuan – Pernah membayangkan kuliah tanpa ceramah panjang lebar? Di mana dosen bukan lagi pusat panggung, tapi justru sibuk di balik layar menyiapkan “pertempuran intelektual” yang sesungguhnya? Itulah yang sedang dirancang Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Gorontalo (FK UMGO) lewat Workshop Team-Based Learning (TBL) yang dirangkaikan dengan kegiatan buka bersama penuh kehangatan.
Workshop TBL yang digelar oleh Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Gorontalo (FK UMGO) ini bukan sekadar pelatihan metode. Ia adalah ajakan untuk mengubah paradigma—dari ceramah menjadi diskusi, dari pasif menjadi aktif, dari individual menjadi kolaboratif.
Metodenya sederhana, tapi revolusioner. Flipped Classroom, kelas terbalik, menjadi fondasi. Mahasiswa belajar dulu di rumah, lalu datang ke kelas bukan untuk mendengarkan, tapi untuk bekerja dalam tim: menganalisis kasus, berdiskusi, berpikir kritis. Dosen tak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, tapi fasilitator yang menyiapkan “arena belajar”.
“Saya tidak lagi mengulang materi di kelas. Saya siapkan semuanya sebelumnya—referensi, soal, kasus, jawabannya. Jadi kelas ini betul-betul dibalik. Inilah flipped classroom Mahasiswa datang ke kelas dengan bekal belajar mandiri, lalu kita adu ide bersama,” ujar Dekan FK UMGO, Dr. Irwin Aras.
Workshop ini tak hanya soal teori, tapi juga sebuah ajakan: berani berubah, berani bereksperimen dalam pendidikan. Para dosen Prodi Sarjana Kedokteran FK UMGO menjadi peserta aktif, mencoba memahami bagaimana TBL bisa menjadi senjata baru di ruang kelas.
Dr. Muh. Firyal Akbar, dari jajaran pimpinan Universitas, menyampaikan harapan dan apresiasinya dengan penuh semangat, “Terima kasih kepada semua pihak yang terus menghidupkan inovasi. Ini bukan sekadar workshop, tapi titik balik cara kita mendidik. FK UMGO harus jadi rumah kedua yang terus bertumbuh dan jadi wajah unggulan universitas.” tandasnya.
Workshop ini bukan kegiatan satu arah. Ada canda, diskusi hangat, ide liar yang membangun, dan tentu saja—ditutup dengan buka puasa bersama yang menyatukan semangat kebersamaan dosen-dosen FK UMGO.
Di balik meja makan, obrolan masih berlanjut. Tentang masa depan pendidikan, tentang metode yang bisa membuat mahasiswa lebih hidup dalam belajar, dan tentang harapan agar FK UMGO bukan hanya memproduksi dokter yang pintar, tapi juga pembelajar sejati yang tumbuh dalam kolaborasi dan empati.
TBL bukan sekadar metode. Ini cara baru memandang pendidikan. Dan FK UMGO, sudah lebih dulu melangkah.



